Thursday, 19 March 2009
Pasar hewan kerbau terbesar di Priangan Timur di daerah Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, sudah dua bulan terakhir ini, nyaris lumpuh. Menurunnya permintaan pembelian hewan kerbau menjadi penyebab situasi pasar tersebut lesu."Sudah dua bulan terakhir, transaksi untuk jual beli kerbau terus mengalami penurunan, termasuk hari Rabu (18/3) ini atau hari pasar. Penjualan kerbau sangat sulit sekali," kata Muin (50), bandar kerbau asal Cineam, Kab. Tasikmalaya, ketika ditemui "PR" di pasar kerbau di Manonjaya.Saat normal, pasar kerbau tersebut biasa menjual lebih dari seratus hewan ternak itu. Hari pasar dibuka setiap Rabu, bersamaan dengan pasar sapi. Pedagang yang datang, mulai dari Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya, Sumedang, Garut, sampai Banjar.Menurut Muin, sudah satu bulan terakhir atau empat kali hari pasar, dia gagal menjual kerbaunya. Padahal, saat normal mampu menjual empat ekor. "Seperti Rabu ini, sebanyak empat kerbau saya tidak bisa dijual. Pembelinya tidak ada, yang menjadi penyebab kelesuan pasar hewan kerbau ini," katanya.Biasanya, satu hewan kerbau dewasa dijual rata-rata Rp 7 juta/ekor. Namun, sekarang harga tersebut turun sampai Rp 1 juta. Pedagang kerbau lainnya, H. Ajat Sudrajat, asal Padakembang, Kab. Tasikmalaya, mengatakan, kelesuan penjualan kerbau dirasakan dua bulan terakhir. Biasanya, setiap hari pasar, Ajat menjual lima sampai enam ekor. "Akan tetapi, sekarang bisa menjual satu ekor saja sudah bagus," katanya.Ajat mengaku bisnisnya terus merugi karena tidak bisa jual kerbau. "Sementara, untuk membawa kerbau dari rumah ke pasar, tetap saja harus bayar angkutan. Sekarang, datang bawa kerbau, lalu pulang yang seharusnya bawa uang, tetapi tetap bawa kerbau," ujar Ajat.Menurut Ajat, kemungkinan daya beli masyarakat mengalami penurunan sehingga konsumsi daging kerbau menurun. "Dengan sendirinya, pembelian hewan kerbau juga menurun. Ekonomi masyarakat, memang sekarang sulit," katanya.Jalil, pedagang kerbau dari Ciamis, mengatakan, dua ekor kerbau yang dia bawa sudah, tiga minggu belum bisa dijual. "Sekarang, semua pedagang sedang sedih sebab sulit untuk jual kerbaunya," katanya.Penjualan sapiSementara itu, pasar hewan sapi juga mengalami penurunan penjualan. Pedagang sapi, asal Cibalong, Kab. Tasikmalaya, Sair (45) mengatakan, untuk penjualan sapi juga mengalami penurunan."Biasanya, saya menjual enam ekor setiap hari pasar, tetapi sekarang yang laku hanya dua ekor," ujarnya.Penurunan penjualan juga diikuti dengan penurunan harga daging sapi, dari semula Rp 50.000,00/kg menjadi Rp 47.000,00/kg.Bandar sapi lainya, H. Marsum, mengatakan, sebelumnya dia bisa menjual dua belas ekor setiap hari pasar di Manonjaya. Tapi, sudah dua bulan terakhir, hanya mampu menjual tiga ekor."Setiap hari pasar, penjualan sapi saat normal bisa mencapai 300 ekor. Sekarang, paling laku secara keseluruhan hanya 45 sampai 50 ekor," katanya.Penyebab penurunan penjualan itu, kata Marsum, karena pembeli dari luar daerah tidak datang lagi. Padahal, biasanya pembeli dari Karawang, Jambi, Palembang, dan Padang, sering memburu ke Pasar Manonjaya.Pembeli dari Palembang, setiap hari pasar, beli 50 sampai 60 ekor sapi. Begitu juga dari Karawang, mencapai 40 ekor sapi. Saat ini, pembeli dari luar hanya dari Garut dan Sumedang, dengan rata-rata penyerapan hanya 20 ekor. (A-97)***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 19 Maret 2009
RUMPUT ALFAFA / ALFALFA
5 hari yang lalu
0 komentar:
Poskan Komentar